Jumat, 15 Juni 2012
SALVATION IS OFFERED BUT MUST BE RECEIVED
Selasa, 01 Mei 2012
WASHED, REBORN, RENEWED, JUSTIFIED AND INHERITING
The Seven Habits of the Highly Ineffective Pastor
Rabu, 11 Januari 2012
In hard Times and bitterness We should stay sweet
Kamis, 29 Desember 2011
Many things happen when God visits (from soul food)
Kamis, 15 Desember 2011
how do you follow the example Jesus set of a humble servant?
When Jesus and the disciples gathered in the upper room, Jesus knew this would be their last supper together. His time on earth was coming to a close and the disciples would soon entrusted with the responsibility of continuing Jesus' earthly ministry, a ministry of self sacrifice and service. Jesus took the opportunity to give the disciples another example of what this ministry of service really meant.
Because the roads in that region were dry and dusty, and since most travel was done on foot, it was customary to wash the feet of one's guests. Footwashing was servant's task and was often done while the quests reclined at the table before a meal.
When Jesus and his disciples gathered in the upper room, no servants were present. None of the disciples offered to take this role, possibly because of the competition that existed between them "as to which one of them was to be regarded as the greatest" (Luke 22:24). So Jesus, their "teacher and Lord" (Jhon 13:13) "poured water into a basin" (verse 5) and washed the feet of his disciples. By doing so, he placed himself in the role of servant and set a powerful example for the disciples about the meaning of discipleship.
Footwashing is not part of our daily life, yet there are other tasks that we might think are menial or beneath us. Jesus showed by example that no form of service is beneath a follower of christ. God calls us to reach out in love and serve our neighbors in need... (from Daily bible study)
Selasa, 13 Desember 2011
Accomplishment Often Comes at Great sacrifice (sermonidea.com)
Senin, 28 November 2011
Friend help us to celebrate (sermonidea.com)
When friends of his family hosted a wedding Jesus joined the celebration, indicating that helping others celebrate the moment was an act of friendship and fellowship sanctioned by God himself. Despite the fact that there are thousands of people who come to some celebrations there are certain people that each of us desires to see present to share that moment.
Those who know our story, who have seen us grow and mature, fall down and get back up, as well as grow stronger by the year are best able to appreciate and celebrate the moment. Those who know us well know from whence we have come. When we are on in the mountaintop only those who have seen us when we were in the valley can appreciate the full gravity of our accomplishment. It is good to have those in the balcony as witnesses who have seen us at our worse and now see us at our best. When Supreme Court Justice Sandra Day O’Conner became the first woman to sit on the Supreme Court, the day she was sworn in was a great day. There were thousands of people in attendance. But Justice O’Conner scanned through the crowd to find the eyes of a mother and mouthed the words thank you. As far as she was concerned only one person could really help her celebrate that moment.
Believers who accomplish something today must remember that there are only a few people who can really help them celebrate the moment and it’s good to have them in the balcony.
Jumat, 25 November 2011
Blind alley situation (from sermon idea.com)
Kamis, 24 November 2011
WE CAN BE ASSURED THAT GOD WILL NOT CHANGE
n a difficult world where everything changes instantly, it is a blessing for believers to know that God’s hand is unchanging. His way of dealing with us is constant and predictable. He won’t be with us today, then forsake us tomorrow. The Biblical record is filled with reassurances that God will be with us in a predictable manner.
When Israel prepared to go into unknown territory Moses reminded them in Deuteronomy 31:6,”Be strong and of a good courage, fear not, nor be afraid of them: for the Lord thy God, He it is that doth to with thee; He will not fail thee, nor forsake thee.” In the New Testament this is repeated again for Christian believers. Hebrews 13:5, “..for He hath said, I will never leave thee, nor forsake thee.”
This is a reassurance that whatever situation that may arise, God will be there, holding our hand. Even when our parents and relatives seem to change in their relationships toward us, God is unchanging. Psalm 27:10 says,” When my father and my mother forsake me, then the Lord will take me up.” In God’s hands, we are safe. He will not walk out on us. He will not abandon us. We will be there for us regardless of the circumstance. (from sermonideas.com)
Despite disappointments, there is always hope
In our disappointments, there is always hope. There is an old saying that behind every dark cloud, there is a silver lining. The song writer says, “There is a bright side somewhere.” In our disappointments, God always show us His grace. In our sickness, tragedies and setbacks, God speaks boldly to our situation and we find hope. That hope is the promises of God. The covenant that God makes with us is what keeps us going. We have His word that He will make a way for us out of no way and be a bridge for us over all of our troubling waters. Therefore even if life gives us disappointments, we don’t give up because God is still on the throne (from sermonideas.com)
Sabtu, 27 Desember 2008
Adakah Hari Esok Bagimu?
Di dalam Literatur para rabi Yahudi, seorang Rabi yang bernama Eliezer mengajarkan, "Bertobatlah satu hari sebelum kematian Anda". Para muridnya bertanya, "Tetapi bagaimanakah manusia tahu di hari apa ia akan mati?" Rabi yang bijaksana itu menjawab, "Karena itu, Anda harus bertobat hari ini. Mungkin hari esok Anda akan mati. Dengan demikian manusia harusnya bertobat setiap hari!"
Bukankah ini satu fakta kehidupan? Kita tidak tahu kapan pengembaraan kita di dunia ini akan berakhir. Hari esok belum tentu menjadi milik kita.
Di zaman ini nyawa seolah-olah sudah tidak punya harga lagi. Untuk alasan sepele manusia akan saling membunuh. Kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput kita. Baru-baru ini di daerah Ancol, Jakarta, hanya gara-gara suara gemuruh knalpot sepeda motor, seorang pemuda bernama Sunarto dikeroyok hingga tewas. Karena merasa terusik dengan suara bising sepeda motor korban, seorang bapak yang sedang bersantai di depan rumahnya langsung mengambil sebatang galah dan menghadang sepeda motor yang berisik itu. Persoalan sepele inilah yang memicu percekcokan yang akhirnya meragut nyawa pemuda yang baru berumur 27 tahun ini.
Saya pasti Sunarto sama sekali tidak menyangka bahwa tanggal 1 April 2006 merupakan hari terakhir baginya di dunia ini. Pada malam minggu itu ia hanya mau mengunjungi bibiknya yang rumahnya tidak jauh dari kontrakannya. Sama sekali tidak diduganya bahwa itu akan merupakan kunjungannya yang terakhir.
Di pertengahan Februari yang lalu, diberitakan di koran tentang seorang janda tua yang dibunuh oleh cucunya sendiri saat ia sedang tidur pulas. Dengan kejam cucunya mengorok leher korban hanya gara-gara cucunya kesal karena dimarahi setelah kedapatan mencuri rokok di kios. Beberapa hari yang lalu juga diberitakan di New York Times, tentang seorang anak yang membunuh ibunya hanya karena keadaan rumah yang berantakan dan tidak terawat!
Membaca tentang tragedi demi tragedi yang berlangsung setiap hari di setiap belahan dunia; apakah korban pembunuhan, kecelakaan lalu lintas atau perampokan, kita semakin diyakinkan bahwa sesungguhnya tidak ada pengharapan di dunia yang fana ini. Begitu murah dan tidak berarti nyawa seorang manusia. Jikalau kita hidup hanya untuk dunia ini maka kita menjadi orang yang paling patut dikasihani.
Menurut rasul Yakobus, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Dalam surat yang ditulisnya kepada bangsa Israel yang berada di perantauan, ia bertanya, "Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap."
Marilah kita hidup dengan membuat persiapan bagi hari esok yang kekal. Renungkanlah hikmat seorang Rabi Eliezer, bertobatlah setiap hari, kita tidak tahu apakah hari esok masih ada bagi kita. Sebaliknya kita harus berkata, "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."
(dikutip dari sumber internet)
Natal, Musim untuk Berbuat Baik?
Sepanjang tahun kita begitu sibuk dengan kehidupan kita dan tanpa disadari kita sudah tiba di penghujung tahun 2008. Bagi yang religius bulan Desember seringkali membuat kita berhenti sejenak dan memikir kembali tentang persoalan-persoalan yang sesungguhnya penting dalam kehidupan kita. Utamanya, di hari-hari menjelang Natal, di gereja, di website atau kartu-kartu Natal yang kita terima mengingatkan kita untuk mengasihi, memberi dan menjadi saluran berkat kepada sesama.
Mengasihi, memberi dan memberkati sesama manusia memang merupakan hal yang mulia dan terpuji. Yang memberi, merasa puas dan senang karena telah menjadi saluran berkat, apa tah lagi, jika yang menerima menunjukkan rasa terima kasih dan menghargai pemberian kita.
Setiap orang Kristen bahkan anak-anak sekolah Minggu pasti mengetahui kisah orang Samaria yang baik hati. Orang Samaria yang baik hati ini merupakan contoh unggul untuk kita teladani. Membaca perumpamaan itu di dalam Injil membuat kita begitu kagum dengan orang Samaria itu dan menginspirasi kita untuk berbuat hal yang sama. Tetapi sayangnya, tidak diberitahukan kepada kita apakah orang Yahudi yang dibantunya menghargai apa yang dilakukan oleh orang Samaria itu.
Terkadang saya berpikir, apakah mungkin korban kejahatan yang dibantu orang Samaria itu tergolong umat Yahudi fanatik yang sama sekali tidak mau berhubungan dengan orang Samaria. Jika memang ia tergolong orang yang demikian, apakah ia akan berterima kasih atau, malah ia akan merasa marah karena telah "dicemari" oleh orang Samaria itu. Bisa saja ia bereaksi keras dan merasa jengkel dengan orang Samaria itu karena telah membuatnya najis! Nah, jikalau perbuatan baik kita menuai kemarahan orang lain, apakah kita masih akan berbuat baik?
Baru-baru ini di Jakarta saya mendengar cerita tentang Bapak J yang sedang mengendarai mobilnya dan pas di depannya seorang pengendara sepeda mobil jatuh dan terlempar karena motornya disenggol bis yang melaju. Seperti yang sering terjadi, sopir bis kota itu tidak mungkin mau bertanggung jawab dan dengan secepat mungkin ia melarikan bisnya. Bapak J, yang berumur sekitar 60 tahun langsung keluar dari mobilnya untuk membantu korban yang jatuh itu.
Korban kecelakaan itu hanya mengalami luka ringan tetapi sepeda motornya sedikit rusak dan ada bagian yang harus diganti dan diperbaiki. Di bagian motor yang disenggol bis terlihat dengan jelas bekas cat dari bis itu. Hal yang mengagetkan adalah korban itu langsung menuntut pertanggung-jawaban Bapak J - orang yang berbaik hati yang mau membantu, akhirnya dituduh sebagai pengemudi yang menabraknya! Karena ngotot menuntut gantirugi, polisi akhirnya dipanggil dan keduanya harus berurusan di kantor polisi. Sekalipun Bapak J sudah menjelaskan bahwa mobilnya berwarna merah dan dari bekas cat di bagian motor yang tergores itu adalah jelas bahwa kenderaan yang menabraknya bukanlah yang berwarna merah. Tambahan pula di bagian mobil sama sekali tidak ada bekas goresan. Mungkin karena penampilan Pak J termasuk orang yang berpunya, bahkan polisi berpihak kepada pengendara sepeda motor yang terang-terang sedang berbohong itu. Pak polisi menggertak bahwa jika Pak J tidak mau membayar ganti rugi maka BPKB mobilnya akan disita.
Akhirnya, karena tidak mau urusan berpanjangan, Pak J setuju untuk membayar ganti rugi. Sepeda motor dibawa ke bengkel. Si pengendara sepeda motor meminta bagian-bagian yang rusak diganti dengan yang paling mahal dan meminta perawatan yang terbaik bagi bagian yang rusak itu. Setelah itu diminta lagi biaya perobatan, walaupun lukanya agak ringan. Pak J akhirnya harus mengeluarkan biaya sekitar Rp1.5 juta gara-gara karena ia punya niat baik mau membantu.
Setelah menceritakan kisah ini kepada teman-teman, Pak J ditanya, "Apakah Bapak akan berhenti lagi jika menemukan korban tabrak lari?"
Jawabnya, "Ya pasti."
"What? Mengapa?"
"Karena itu merupakan hal yang benar untuk dilakukan."
Saya kira Bapak J merupakan jenis manusia langka di planet Bumi ini!
Begitu juga dengan orang baik Samaria di dalam perumpamaan yang diberikan Yesus itu. Tidak lazim menemukan orang yang mau membantu jikalau dalam memberi bantuan kita harus menanggung kerugian, belum lagi harus mempertaruhkan nyawa kita. Orang Levi dan ahli Taurat, yang dapat disejajarkan di masa kini, bukan saja sebagai orang percaya tetapi pekerja full time di gereja, pada akhirnya memutuskan untuk tidak membantu, bukan karena mereka tidak punya kasih. Saya yakin mereka juga memberitakan pesan kasih di dalam pengajaran mereka, tetapi mereka khawatir harus menanggung resiko jika berhenti dan membantu orang yang luka itu. Jalan melintasi pergunungan ke Yeriko itu memang terkenal sebagai tempat mangkal para penyamun. Belum lagi, jika orang yang luka itu mati, bisa-bisa saja mereka lebih direpotkan. Bisa saja mereka terlambat untuk pelayanan di gereja/bait Allah. Memanglah wajar setelah mempertimbangkan faktor-faktor tertentu, mereka tidak berhenti untuk membantu.
Rata-rata manusia memang punya kasih dan mau membantu. Persoalannya adalah sejauh mana?
Sayangnya, perintah Tuhan bagi umat-Nya bukanlah sekadar "Kasihilah sesama manusia". Jika hanya masalah mengasihi, kita semua dapat melakukannya. Memberi uang Rp1000 ke pengemis sudah mengasihi. Sekali-kali memberi sumbangan ke panti asuhan sudah mengasihi. Tetapi yang membuat kita tidak habis pikir adalah Tuhan bukan saja berkata, "Kasihilah sesama manusia", tetapi Ia menambah tiga kata lagi, "seperti dirimu sendiri."
Dalam hal mengasihi diri kita sendiri, kita tidak pernah takut repot. Kita tidak pernah khawatir kita akan rugi. Kita mengasihi diri kita sampai kita berani mempertaruhkan segalanya. Diri kita sendiri bukanlah orang yang menyenangkan untuk dikasihi, tetapi tetap saja kita sangat mengasihi diri kita. Dan dengan cara inilah Tuhan mau kita mengasihi sesama - sebagaimana kita mengasihi diri kita sendiri - tanpa syarat, tanpa pamrih dan tanpa menghitung untung rugi.
Itulah juga caranya bagaimana Yesus telah mengasihi kita, dari 2000 tahun yang lalu sampai ke hari ini. Ia tidak pernah lelah melakukannya - demikian jugalah kehendak-Nya bagi kita.
(dikutip oleh agus melalui sumber internet)
Sabtu, 06 Desember 2008
Jago Kandang dan Jago di Luar kandang
(Mazmur 121)
Pendahuluan:
Saya tinggal di Desa Cimareme. Di Desa itu, ada semua desa yang diberi nama, Cikandang. Kenapa mereka diberi nama Cikandang? (tanyakan ini kepada mereka). Mereka diberi nama Desa Cikandang bukan karena banyak kandang di sana, tetapi karena penduduk desa itu hanya berani melawan dan berkelahi di tempat mereka. Ketika mereka di luar desa mereka, mereka kehilangan keberanian mereka.
Bahkan saya pernah mendengar dari mahasiswa sekolah theology yang membuat sindiran dari lagu rohani, yang berbunyi: Allah dahsyat di tempat kudusnya!!!!. Mahasiswa ini berkata seperti ini, lagu ini menyatakan bahwa Allah kita itu adalah Allah yang jago kandang.
Kita seringkali juga mendengar bahwa orang Kristen adalah orang yang jago kandang, karena mereka begitu bergairah di dalam gereja. Namun, ketika mereka berada di luar gereja, mereka tidak berdaya sama sekali. Kegairahan yang nampak di dalam gereja, dalam sekejap mata hilang ketika mereka berada di luar gereja. Bukankah kita seringkali mengalami hal serupa di dalam kehidupan kita ini?
Kalimat pernyataan: Orang Kristen adalah jago kandang dan jago di luar kandang.
Kalimat pertanyaan: kenapa Orang Kristen adalah jago kandang dan jago di luar kandang?
Latar belakang mazmur 121: Mazmur ini adalah mazmur Ziarah. Bangsa Israel yang tinggal di mana saja, pasti akan mengadakan perjalanan naik haji ke Tanah Perjanjian mereka. Mereka menyanyikan mazmur ini ketika mereka hendak pulang kembali ke tempat mereka masing-masing. Selain itu, mereka akan segera kembali melakukan aktivitas mereka seperti biasanya. (mungkin mereka adalah petani, dosen, mahasiswa, pengusaha, dll). Sebelum mereka pulang, mereka ketakutan karena mereka akan melewati padang gurun. Mereka melakukan perjalan ini dengan kendaran sederhana seperti unta atau bahkan mereka berjalan kaki. Cuaca yang panas pada siang hari dan cuaca yang dingin pada malam hari juga merupakan masalah yang harus mereka hadapi. Oleh karena perubahan cuaca yang sangat tinggi itu, mereka mudah merasa haus, lapar dan mudah terjangkit penyakit. Kendala/masalah mereka bukan hanya itu, pada malam hari saat mereka berkemah ada ketakutan akan perampok. Mungkin juga binatang-binatang buas telah siap untuk mengintai dan memangsa mereka. Bukankah kita juga sering mengalami hal yang sama. Ketika kita berada di gereja, kita dapat berloncat-loncat, menari-nari, dan bergojet. Namun saat ibadah selesai, kita seperti menjadi lemah lunglai, karena kita menjadi takut dan gentar untuk melakukan aktivitas kita. Mungkin setelah kita selesai ibadah, kita langsung teringat dengan masalah I.P. kita yang kurang. Kita mengingat masalah di asrama, di rumah, dll. Kita sepertinya tidak berani menjalani hidup ini.
Allah kita adalah bodyguard kita (ayat 1 - 2).
Kita melihat peziarah mencari sumber pertolongan. Peziarah tidak mencari pertolongan dari gunung-gunung itu sendiri, tetapi dia mencari pertolongan dari pencipta gunung-gunung itu. Dia mencari sumber pertolongan, yang tidak lain adalah Allah itu sendiri. Dialah Allah yang memperhatikan umat-Nya dan menjaga mereka dari mara bahaya.
Ilustrasi: saudara pernah melihat film bodyguard from Beijing. Dimana sang bodyguard mencoba menjagai dan melindungi seseorang yang menyewanya. Dia menggunakan segala peralatan yang sangat muktahir/maju. Bodyguard ini rela tidur di depan pintu hanya untuk menjagai orang itu. dia juga rela mencobai makan yang disediakan untuk orang yang dijagainya. Dia juga mencoba berada di antara orang itu dengan semua bahaya mengancamnya.
Mazmur 121 menggambarkan dengan jelas peran Allah seperti bodyguard bagi orang yang percaya kepada-Nya. Mazmur ini juga menunjukkan betapa setianya dia memenuhi peran itu.
Mungkin sekali, kita memasuki tahun ini dengan ketakutan yang luar biasa. Mungkin Kita takut ketika kita menerima I.P. kita menjadi takut ketika
Dia adalah Allah yang tinggal dekat dengan kita dalam setiap langkah perjalanan kita (3-5).
Mazmur ini menggambarkan bahwa Allah tidak hanya menjaga kita dari jauh, seperti seorang polisi yang akan datang ketika kita menelopennya. Dia berdiri dekat pada setiap saat, dia siap untuk memberikan tangannya untuk menolong kita. Orang-orang seringkali berpikir bahwa Dia hanya Allah berada jauh atau tinggal jauh dari kita. Allah yang tinggal di luar angkasa jauh dari galaksi kita. Memang hal itu benar, namun Mazmur ini mengajarkan kita juga bahwa Allah yang jauh dari kita juga adalah Allah yang berada di sisi kita.
Dia bukan saja Allah yang dekat dengan kita, Mazmur ini juga menggambarkan Allah seperti seorang penjaga malam yang tidak pernah meninggal tempat jaganya, tidak pernah istirahat, penjaga yang tidak lalai menjalankan semua tugas-tugasnya.
Bayangkan pengalaman Bangsa Israel yang tengah berkemah di padang gurun pada malam hari. Mungkin mereka akan bertemu dengan binatang buas. Mungkin mereka juga akan bertemu dengan kelompok perampok. Siapa yang akan menolong mereka? Peziarah ini menyatakan bahwa Allahlah yang dekat dengan mereka adalah Allah yang selalu memperhatikan mereka dan melindungi mereka dari mara bahaya yang telah menanti mereka.
Ayat 6 juga menekan tindakan pemeliharaannya kepada umat-Nya. orang yang melakukan perjalanan di padang gurun pada waktu siang maupun malam akan menghadapi bahaya alam yang dashyat. Kematian karena sinar matahari yang begitu terik adalah bahaya yang paling banyak dijumpai. Mereka juga dapat mengalami kebutaan dan mudah marah karena panasnya sinar matahari. Mereka juga dapat mengalami kematian karena kehausan. Cuaca malam yang begitu dingin juga mendatang ketakutan yang luar biasa, karena dapat mendatangkan kegilaan. Walaupun dalam keadaan terancam yang luar biasa seperti itu, Si Peziarah ini menggambarkan bagaimana sempurnanya pertolongan Tuhan baginya.
Banyak bahaya dalam perjalanan kehidupan di tahun yang baru saja kita mulai. Kita tidak akan dapat melarikan diri dari masalah itu dan kita juga tidak akan membiarkan masalah-masalah itu mengoyahkan kita bahkan menghancurkan kita, karena kita tahu bahwa kita bukanlah tidak dilindungi. Kita mempunyai seorang bodyguard, Allah yang selalu dekat dengan kita, Allah juga siap menjulurkan tangan-Nya untuk menolongnya. Jadi betapapun beratnya perjuangan perjalanan iman kita, jangan takut, karena Dia selalu memperhatikan kita. Kita bukan hanya jago kandang, tetapi juga jago di luar kandang, karena kita punya divine bodyguard.
Dia menyediakan suatu janji: penjaga kita akan memperhatikan kita sampai kepada akhir dari perjalanan hidup kita.
Kita tidak akan takut mengenai permasalahan yang besar, jika kita dapat percaya bahwa Allah bersama kita dan akan melihat kita hingga selesai.
Ilustrasi:
Presiden Amerika Abraham Lincoln mengunjungi sebuah rumah sakit militer. Dia mendekati seorang tentara yang hampir meninggal. Tentara ini tidak mengenali presidentnya. Presidentnya berkata "apa yang dapat saya lakukan untukmu? Tentara ini menjawab "saya akan bersukacita jika kamu mau menuliskan kata-kata saya untuk orangtua saya." Kemudian tentara mendiktekan kata demi kata dan Abraham Lincoln menuliskannya pada sebuah kertas. Setelah itu, tentara ini meminta Abraham Lincoln untuk menanda tangani surat itu, sehingga orangtua saya akan tahu betapa baiknya anda. President menanda tangani surat itu. Setelah tentara melihat surat yang telah ditanda tangani oleh president, dia kaget dan berkata "dia tidak tahu jika saya sedang berhadapan dengan president." Kemudian president ini kembali bertanya, "apa yang dapat saya Bantu lagi?" tentara yang hampir meninggal merasa malu dan berdiam sejenak, kemudian berkata "kematian saya akan lebih mudah jika anda hendak menemani saya dan melihat saya melaluinya. Abraham Lincoln menempati janjinya. Jam sebelas datang, jam dua belas lewat, jam satu terlalui, jam dua datang, dan pada jam tiga petang, prajurit itu meninggal dunia. President dengan gentlenya, menutupkan mata sang prajurit, dan melipatkan tangannya pada jantungnya. Dengan muka yang tertunduk, dia meninggalkan ruangan itu. Dia telah menepati janjinya. Dia telah tinggal di sisi tentara itu. Dia juga telah melihatnya melalui saat terakhir.
Allah kita adalah Bodyguard ilahi yang tinggal dekat dengan peziarah-peziarah iman dan tidak pernah tertidur, yang menjaga kita dari setiap bahaya. Allah inilah yang telah memberikan kata-kata-Nya bahwa Dia akan melihat kita hingga akhir perjalanan hidup kita. Dia akan bersama dengan kita ketika malam datang dan ketika kita berjalan di dalam kegelapan malam. Dia akan berada di sana untuk bertemu dengan kita ketika sinar pagi tidak terbit.
Jadi orang Kristen bukan hanya jago kandang, tetapi juga jago luar kandang.
Kamis, 09 Oktober 2008
Mari Bersaksi
Cerita Chinese kuno: Wang Li, seorang murid yang miskin, tidak dapat membeli sebuah mangkok nasi sekalipun. Untuk beberapa hari ia berjalan berkeling dengan perut yang lapar. Suatu hari, tuan yang mempunyai kedai the berkata kepada Wang Li, "engkau boleh makan di kedai rumahku setiap hari." Wang Li menjawab, "tetapi saya tidak dapat membayarnya." Pemilik kedai berkata "saya tahu, tetapi jangan takut. Saya yang akan membayarnya." Hari lepas hari, minggu lepas minggu, Wang Li makan di kedai the tersebut. Namun pada suatu hari, Wang Li hendak meninggalkan kota itu, lalu ia berkata "saya tidak dapat membayar semua makanan yang telah saya makan, tetapi saya akan memberi bapak sesuatu yang sangat special." Wang Li mengambar sebuah gambar dari seekor burung bangau yang indah yang beraada di atas tembok. Kemudain Wang Li berkata kepada pemilik kedai teh tersebut, "bapak, burung bangau ini akan membuat engkau kaya." Ketika semua tamumu sedang duduk bersama, minta mereka untuk bertepuk tangan sebanyak tiga kali. Setelah itu, burung bangau akan berjalan ke luar dari tembok dan menari. Namun, ingat, hanya ketika mereka (orang banyak) menyaksikan bersama-sama. Jika engkau mengijinkan hanya satu orang saja yang menikmatinya, maka burung bangau itu tidak akan menari lagi."
Kemudian Wang Li meninggalkan kota itu. Dengan cepat sekali, berita mengenai gambar burung bangau yang dapat menari diketahui oleh setiap orang yang ada di kota itu. Banyak orang datang untuk menyaksikan keajaiban itu. Dalam sekejap pemilik kedai the menjadi seorang jutawan yang baru. Namun pada suatu hari, kedai teh kedatangan seorang tamu yang sangat kaya. Tamu ini berkata kepada pemilik kedai teh tersebut, "saya hendak menonton gambar burung bangau tersebut, tetapi saya hanya mau menonton itu sendiri." Pada mulanya, pemilik ini berkata tidak, namun setelah terjadi perdebatan yang sangat sengit, saudagar kaya ini, mengeluarkan sejumlah yang sangat besar dan berkata, "kalau engkau mengijinkan saya menyaksikan pertunjukan itu sendiri, uang ini akan menjadi milikmu semuanya."
Pemilik kedai tersebut merasa tergoda, walaupun dalam pikiran keinginan itu berdebat dengan perkataan Wang Li. Namun ia mengambil kesimpulan untuk memberi kesempatan itu kepada saudagar kaya. Lalu pemilik kedai the meminta pelanggan yang lain untuk keluar. Setelah saudagar kaya itu bersiap - siap untuk menonton. Lalu ia menepuk tangannya sebanyak tiga kali, apa yang terjadi? (minta respon dari pendengar?) burung bangau dengan muka yang muram mengoyang - goyang kepala dan melihat sekelilingnya. "Di mana penonton yang lain? Di mana anak laki-laki dan perempuan yang ingin tahu, yang menonton dengan saya dengan sukacita, mata yang lebar, dan mulut yang terbuka?" kata burung bangau. Saudagar merasa tidak sabar untuk menyaksikan pertunjukan itu, lalu ia bertepuk tangan 3 kali, Apa yang terjadi? Dengan ragu - ragu, burung itu keluar lagi, berjalan berkeliling, lalu burung itu berdiri seperti sebuah patung. Pada sore hari itu, Wang Li kembali ke kota itu. Dengan gembira, ia hendak segera bertemu dengan Si pemilik kedai teh dan melihat gambar burung bangau itu. Lalu patung burung bangau itu bergerak dan berjalan ke arah Wang Li, kemudian kedua - keduanya menghilang pada sore hari itu.
Pesan Cerita: kebahagian itu harus dibagikan kepada orang lain. Jika kita memeliharanya hanya untuk diri kita sendiri, maka kebahagian itu akan lenyap.
Bukankah hal yang sama dengan apa yang harus kita perbuat untuk kristus. Kita telah memperoleh keselamatan itu. Keselamatan itu membuat kita bahagia. Oleh karena itu, kita harus bersaksi/berbagi/menceritakan keselamatan itu kepada orang lain. Masih banyak orang yang belum mendengar mengenai Yesus, sang penyelamat kita.
Pada pagi hari ini, saya akan membahas mengenai konsep dari bersaksi. Mari kita buka Injil Matius 28: 18 - 20.
1. Bersaksi bukanlah suatu paksaan melainkan suatu keharusan yang harus kita lakukan
pada ayat 19, Yesus memberi perintah kepada murid-murid-Nya yang adalah saksi hidup dari peristiwa kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus.
Injil Markus 16: 15, Yesus memberi perintah kepada murid - murid-Nya untuk menjadi saksi yang mengabarkan kabar baik itu.
Dalam Ibrani pasal 2: 3 - 4 menggambarkan Tuhan sendiri telah bersaksi mengenai keselamatan itu.
Kalau kita melihat Kisah para Rasul 1: 8 dengan jelas mengatakan bahwa mereka adalah saksi yang akan menyaksi kabar baik itu ke seluruh dunia.
Kisah Para Rasul 8: 1 - 4, jelas - jelas menggambarkan bahwa walaupun dalam situasi yang sukar dan sulit, semua orang percaya tanpa kecuali bersaksi mengenai kabar baik kepada orang lain.
Yang menjadi pertanyaan, Kenapa para rasul dan gereja mula - mula mempunyai semangat untuk bersaksi? Karena mereka beranggapan bahwa ini adalah tugas yang harus dijalankan dan bukan suatu beban. Mereka beranggapan bahwa Tuhan yang memberikan mandat ini kepada mereka. Mari saudara-saudara sadarilah, bersaksi bukanlah suatu paksaan melainkan suatu tugas dan kewajiban yang harus kita lakukan, karena Tuhan yang telah memerintahkan kita untuk melakukan misi ini.
Billy Graham mengatakan bahwa 90% dari para anggota gereja sekarang tidak membagikan pengalamannya atau bersaksi kepada orang lain. Bukankah ini fakta yang sangat menyedihkan?
Danny Daniel mengatakan bahwa dua pertiga dari gereja - gereja injili tidak menawarkan kesempatan praktek penginjilan kepada para anggotanya. Dengan kata lain, dua pertiga dari gereja - gereja injili itu tidak juga mendorong jemaatnya untuk bersaksi.
2. Bersaksi memerlukan tindakan yang nyata
Kalau kita melihat pada ayat 19, jelas sekali bahwa goal dari Amanat Agung adalah menjadikan semua bangsa murid-Ku. Sebelum kita dapat menjadikan semua bangsa sebagai murid-Nya, kita harus mengambil suatu tindakan yang nyata, yaitu, menjadi saksi yang memberitakan kabar baik ini kepada orang lain. Jika kita tidak pernah mengambil tindakan untuk bersaksi, jangan berharap misi ini akan tercapai. Misi ini akan tercapai jika kita mengambil tindakan nyata untuk bersaksi mengenai kabar baik ini kepada orang lain yang belum kenal Tuhan secara pribadi.
malam misi international di APTS diberi tema :Mission cry (tangisan Misi): if not now, when? If not us, who? (jika bukan sekarang, kapan? Jika bukan kita, siapa?). Dengan kata lain, tema itu mengatakan: untuk menjadikan semua orang Indonesia menjadi milik Kristus, kita harus mengambil keputusan untuk menyampaikan kabar baik ini kepada orang - orang yang belum kenal Tuhan secara pribadi
mengambil tindakan bukan hanya berarti kita bersaksi dengan menggunakan kata - kata saja, tetapi kita juga dapat menggunakan gaya hidup sebagai alat untuk bersaksi. Kita dipanggil untuk bersaksi, yaitu dengan memperlihatkan gaya hidup Kristus dalam gaya hidup kita.
Di GSJA Cimahi, ada seorang wanita Tua yang bernama Ibu Yul (sekarang telah duduk dipangkuan Bapak di Surga). Ibu ini adalah ibu yang dipakai Tuhan untuk bersaksi kepada keluarga saya. Dia tinggal di tempat yang cukup jauh dari rumah saya, tetapi setiap sore hari dia selalu datang ke rumah saya dan bersaksi mengenai kristus). Selain itu, Gereja Cimahi mempunyai cabang SM dan POS PI di Gunung Bohong. Untuk pergi ke sana, bukanlah perjalanan yang mudah. Dia harus berjalan kaki selama kurang lebih 45 menit untuk sampai di tempat tersebut. Melalui pelayanannya, banyak orang dimenangkan bagi Tuhan. Bukan hanya itu saja, di gereja pusat dia selalu yang menghampiri jemaat baru. Jika dia bertemu dengan jemaat lain, dia selalu menanyakan keadaan mereka. Pada waktu dia meninggal dunia, semua orang yang hadir dalam acara pemakamannya merasa kehilangan yang sangat besar. Dia telah merancang sebuah baju untuk acara natal, namun dia belum sempat mengenakannya. Semua orang meminta penjahit untuk mengerjakan pakaian dengan cepat, karena banyak orang ingin memberikan penghargaan itu untuknya. Jemaat gereja mengenakan baju itu kepadanya sebagai tanda penghormatan terakhir yang dapat mereka berikan kepadanya. Kehilangan itu terasa ketika hari minggu tiba, jemaat tidak lagi melihat ada orang yang menghampiri jiwa baru. Tidak ada lagi orang yang selalu menanyakan bagaimana kabarmu? Tidak ada lagi orang yang selalu memberikan cium pipi kepada anak - anak yang pernah dididiknya? Sadarilah: Bersaksi menuntut suatu tindakan yang nyata
3. Dalam bersaksi, kita adalah patner kerja Allah (ayat 18 dan 20, Kisah para rasul 1:8)
Dalam teks - teks ini, kita menemukan bahwa kita adalah patner Allah. Allah tidak membiarkan kita sendiri untuk menjalankan proyek keselamatan ini.
ayat 18 mengatakan bahwa Dia yang memegang kekuasaan di surga dan di bumi.
Ayat 20 menyatakan bahwa Dia akan menyertai kita sampai kepada akhir zaman.
Kisah Para Rasul 1: 8 mengatakan bahwa Orang percaya akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun di atas kita.
Ibrani 2: 3- 4 (walaupun konteksnya berbeda, Namun di sana tersirat bahwa Allah turut bekerja untuk membantu para rekan-rekannya agar rekan - rekannya dapat menyelesaikan proyek ini. jadi saudara ketahuilah bahwa kita tidak sendiri dalam menyelesaikan proyek keselamatan ini, karena Allah bekerja bersama - sama dengan kita.
Bersaksi adalah soal kerja sama kita dengan Allah
Bersaksi adalah soal kita dimampukan oleh Allah
Bersaksi bukan sekedar soal kecakapan kita sendiri, melainkan kecakapan yang berdasarkan kesediaan kita dipakai oleh Tuhan.
Jadi mari kita menjadi pelaku - pelaku dari proyek keselamatan ini. kita akan menjadi agent - agent dari proyek ini kalau kita mengambil tindakan untuk menyampaikan kabar baik ini kepada orang - orang yang belum pernah mendengarnya.
Minggu, 05 Oktober 2008
The Good leader
Oleh karena itu, berdasarkan data di atas, kita akan melihat kepemimpinan yang berhasil dari segi alkitabiah. Kita akan menemukan banyak prinsip kepemimpinan di dalam alkitab. Dalam paper ini, kita hanya akan berfokus di dalam kitab Hakim-Hakim.
visi adalah segala-segalanya bagi seorang pemimpin. Visi itu benar-benar tidak tergantikan karena visilah yang memimpin para pemimpin. Visi melukiskan sasarannya. Visi memicu serta membakar semangat dan mendorong pemimpin untuk maju. Visi juga merupakan pemicu orang lain untuk menjadi pengikut dari pemimpin tersebut. Seorang pemimpin yang tidak memiliki visi takkan ke mana-mana. Paling banter, ia akan berlari di tempat.
Selain itu, kitab Hakim-Hakim memberitahukan kepada kita bahwa sumber visi itu adalah Allah sendiri. George Barna juga mendukung pendapat ini. Ia mengatakan visi itu mempunyai tiga aspek yaitu kenali diri sendiri, pelajari lingkungan anda, dan kenali Allah…Pemimpin Kristen di dalam kehidupan dan pelayanannya telah memberikan suatu kesimpulan bahwa tidak akan pernah dapat menemukan visi tanpa mengenal lebih dulu Si Pemberi visi, yang tidak lain adalah Allah. Di buku yang lain, Barna juga mengatakan
visi sejati berasal dari Tuhan. Bila kita secara pribadi memunculkan suatu visi tentang masa depan, visi kita ini bisa keliru, kurang dan terbatas; visi Tuhanlah yang sempurna dalam segala hal. Hanya Dia yang tahu apa yang terbaik untuk kita; hanya Dia yang cukup memperhatikan kita sehingga Dia memanggil para pemimpin ke depan dan menanamkan visi-Nya di dalam diri mereka demi kepentingan semua pihak.
Prinsip kedua adalah seorang pemimpin yang berhasil harus menunjukkan ketaatan kepada perintah Allah atau komitmen kepada Tuhan. George Barna mengatakan bahwa “seorang pemimpin yang berhasil hanyalah seorang serdadu yang mendapat perintah untuk melaksanakan tugas. Pekerjaan saya adalah hadir setiap hari, siap bekerja, dan mematuhi pengarahan yang diberikan-Nya.” John R. Mott mengatakan bahwa yang membedakan pemimpin besar dan berhasil dengan pemimpin yang tidak berhasil adalah ketaatan dan komitmen mereka kepada Tuhan. Dengan kata lain, ia mengatakan bahwa dengan ketaatan dan komitmen yang mutlak kepada Allah, maka seorang pemimpin akan melihat perkara-perkara besar terjadi di dalam era kepemimpinannya.
Prinsip yang ketiga adalah seorang pemimpin yang sukses mengatakan bahwa Allah adalah sumber keberhasilannya. Dengan kata lain, ia mengembalikan keberhasilannya kepada Allah. Setiap pemimpin tidak mudah untuk melakukan hal ini, karena setiap pemimpin hendak diakui kehebatan dan kesuksesannya. Dengan kata lain, seorang pemimpin selalu punya kecenderungan untuk mengatakan bahwa keberhasilan dan kesuksesan ini karena saya. Selain itu, Ia juga mengatakan “Allah ada di balik semua keberhasilan seorang pemimpin. Jadi betapa luar biasa kehormatan yang kita terima selama memimpin untuk memuliakan Tuhan.
Prinsip yang keempat adalah seorang pemimpin yang besar adalah seorang pemimpin yang mau bangkit dari kegagalannya. Yang membedakan pemimpin yang berhasil dengan yang tidak sukses adalah bagaimana pemimpin tersebut mengambil sikap terhadap kegagalan di dalam karier kepemimpinannya. Froude mengatakan bahwa sukses atau tidak seorang pemimpin tidak dilihat dari satu kegagalan saja, tetapi dilihat dari keseluruhan hidupnya. Respon seorang pemimpin terhadap kegagalan akan menentukan apa karier kepemimpinannya akan selesai sampai di sini atau akan bertahan dan sukses sampai pada masa akhir hidupnya. Sander mengatakan bahwa pertobatan yang mendalam dan kenyataan kasih kepada Kristus, bahkan telah membuka kembali kesempatan ke arah pelayanan yang lebih luas dan besar…suatu penyelidikan terhadap tokoh-tokoh Alkitab menyatakan bahwa sebagian besar orang yang membuat sejarah adalah orang-orang yang gagal dalam beberapa bidang, dan sebagian lagi gagal secara drastic, tetapi mereka tidak mau terus berbaring dalam debu. Kegagalan dan pertobatan mereka menjamin adanya satu konsep mengenai kasih karunia Allah yang lebih luas.
Prinsip yang kelima adalah pemimpin yang diurapi oleh Roh Kudus atau pemimpin yang dimampukan oleh Roh Kudus. Setiap pemimpin Kristen harus memiliki kriteria ini. Dengan kata lain, inilah adalah syarat mutlak yang harus dimiliki oleh pemimpin Kristen. Sander mengatakan “kepemimpinan rohani hanya dapat dilakukan oleh orang yang penuh dengan Roh. Memang sifat-sifat lain untuk kepemimpinan rohani juga diperlukan, tetapi syarat ini adalah syarat pertama dan mutlak harus ada di dalam setiap pemimpinan rohani.” Bahkan Sanders berani menambahkan, “betapapun cerdasnya seseorang secara akal, betapapun mampunya ia untuk menjadi pemimpin, tetapi tanpa perlengkapan yang terpenting ini, ia tidak akan dapat menjadi seorang pemimpin rohani yang sejati.”
Prinsip yang keenam adalah pemimpin yang menyadari kelemahannya. Dengan mengetahui dan menyadari kelemahannya masing-masing, maka pemimpin selalu sadar dan berjaga-jaga, sehingga kepemimpinannya dapat berjalan dengan baik dan berhasil. Jay A. Conger mengatakan salah satu masalah yang dapat membuat seorang pemimpin kharimatik tidak berhasil adalah kegagalan menyadari kekurangannya. Seperti telah tertulis pada bagian sebelumnya, Barna mengemukakan tiga element dari suatu visi, yaitu kenali diri sendiri, kenali lingkungan dan kenali Allah. Di dalam bagian kenali diri anda sering, seorang pemimpin diminta untuk benar-benar mengoreksi dan mengenali apa kelebihannya, apa kelemahannya, apa karunia yang dimilikinya, apakah dia orang yang emosional, dll. Dengan kata lain, kalau kita mengenali dan mengetahui kekurangan dan kelemahan kita, maka kita telah mempunyai satu aspek atau segi untuk menjadi pemimpin yang berhasil.
Jadi di dalam Kitab Hakim-Hakim, kita menemukan enam prinsip kepemimpinan yang dapat diterapkan di dalam kehidupan di masa sekarang. Keenam prinsip itu adalah seorang pemimpin harus mempunyai visi, seorang yang diurapi oleh Tuhan, seorang yang mengenali dan mengetahui kekurangannya, seorang yang mau bangkit dari kegagalannya, seorang yang penuh dengan komitmen dan seorang yang menyadari bahwa sumber keberhasilannya adalah Allah sendiri.
Kamis, 02 Oktober 2008
Belajar dari Binatang
Di dalam kebudayaan orang-orang cinapun, kita menemukan suatu kebudayaan untuk menghubungkan manusia dengan binatang. Ada orang yang lahir pada tahun ayam, pada umumnya orangnya akan rajin. Ada orang yang lahir pada tahun babi, pada umumnya orangnya akan bersifat malas. Bahkan mereka juga seringkali menyamakan Tahun binatang tersebut sebagai berkat, contohnya: waktu Tahun "Naga Emas" banyak orang-orang cina hendak mempunyai anak lagi, karena mereka percaya siapa yang lahir pada tahun itu akan menjadi orang yang kaya dan sukses.
Amsal 10: 26; 13: 4; 15:19; 18:9; 19:15; 22:13; 26:13, 14,16. Dalam kitab Amsal, kita melihat perbandingan antara orang malas dengan orang rajin. Pd pasal 10: 26, pemalas digambarkan seperti cuka bagi mulut dan asap bagi mata. Jadi orang malas adalah sesuatu yg tidak berguna. Ps 26: 14 memberikan karakteristik yg berbeda mengenai orang malas. Ps 26: 13, jg menggambarkan orang malas yg suka berbohong atau omong besar utk menutupi kemalasannya. Ps 26: 16, org malas yg suka berhayal dan bermimpi, sehingga menimbulkan kesan bahwa dia begitu pintar dan bijaksana.
Pd pagi hari ini, kita harus merendahkan hati dan belajar dari binatang-bintang yg mungkin dalam pemikiran kita tidak mempunyai kelebihan sama sekali. Mari kita melihat Kitab Amsal 6: 6 - 11.
Semut mengajarkan kita untuk hidup dalam komunitas/kerja sama/tahu fungsinya masing-masing (ayat 7)
Semut mempunyai dua lambung. Ketika mereka mencari makan, mereka mengisi kedua lambungnya sampai penuh. Lambung yg satu untuk dirinya sendiri dan lambung yang lainnya untuk sesamanya. Ketika seekor semut menemukan makanan dan ia tidak mampu membawanya, ia akan memanggil teman-temannya untuk menolongnya membawa makanan tersebut. Bukan itu saja, di dalam dunia semutpun sudah ada pembagian kerja. Semut-semut yang berbadan besar akan mencari makan, semut-semut yang berbadan sdg akan menjadi serdadu/tentara, semut-semut yg berbadan kecil bertugas untuk memberi makan bayi-bayi semut. Dr semua ini kita belajar banyak, bahwa kita harus hidup di dalam komunitas, saling kerja sama, saling memperdulikan sesama, dan pada saat yg sama, kita juga menjalan tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban kita masing-masing. Bagaimana dengan kita? Sebagai tubuh kristus, apa kita sdh saling peduli satu dengan yng lain? Apa kita saling memperhatikan satu dengan yang lain? Atau malah kita saling cuek dan tidak peduli akan apa yang terjadi dengan saudara-saudara kita? Sebagai jemaat tuhan, apakah kita sdh melakukan bagian-bagian kita? Sudah kita menjalankan tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban kita sebagai tubuh kristus, shg org di luar sana dapat melihat kemuliaan Tuhan di dalam gereja dan melalui kebersamaan kita.
Kita hrs Mempersiapkan masa depan kita (ayat 8)
Semut selalu merencanakan masa depannya. Mereka tidak hanya berpikir untuk hidup hari ini saja, tetapi pada saat yang sama mereka juga berpikir mengenai kelangsungan hidup pada masa depan mereka. Teks kita menuliskan bahwa semut mempersiapkan makanan pada musim panas/panen, karena mereka tahu ada saat di musim salju, mereka tidak dapat keluar dan mencari makan. Bagaimana dengan kita? Terkadang kita, yang disebut mahkluk ciptaan Tuhan yang paling pintar dan berhikmat seringkali tidak pernah berpikir mengenai masa depan kita, bahkan tidak merencanakan masa depan kita. Bahkan mungkin kita seringkali beralibi: bukankah Tuhan yang memegang masa depan kita. Jadi buat apa kita takut dan ragu lagi mengenai masa depan kita. Namun pada pagi hari ini, saya ingin menekan sesuatu: Walaupun kita tahu dan percaya bahwa Tuhan memegang masa depan kita, kita tetap harus berpikir, merancang dan mempersiapkan masa depan kita. John Maxwell pernah berkata: ketika kita gagal membuat suatu perencanaan, itu berarti kita telah merancangkan kegagalan untuk masa depan kita.
Semut mengajarkan Kita untuk tidak boleh menunda pekerjaan/kewajiban/tugas kita
Semut tidak pernah menunda pekerjaan. Kalau kita menghancurkan sarang/rumah semut pada hari ini, maka pada hari ini juga dia akan membangun rumahnya. Bukankah seringkali tingkah laku kita berlawanan dengan sifat semut ini. kita seringkali menunda pekerjaan kita/tugas/kewajiban kita.
Semut mengajarkan kita untuk memiliki kehidupan yang digerakkan oleh tujuan
semut selalu dimotivasi/digerakan oleh tujuannya. Motivasi yg mendorong semut adalah makanan. Semut akan selalu mencari makanan untuk mempertahakan kelangsungan hidupnya. Betapun sulitnya, mereka akan mencoba untuk mendapatkannya. Kalau diseberang aliran air ada makanan, maka mereka membuat saluran/terowongan dibawah aliran air tersebut. Kalau diseberang sungai sana ada makanan, keadaan itu tidak menghambat semut untuk mendapatkannya, mereka akan menggerakan batu dan mereka akan menggantungkan diri mereka di sana, sehingga mrk akan tiba di seberang sungai tersebut. Bukankah kita seharusnya lebih berhikmat drpd semut. Kalau semut hanya dimotivasikan oleh makanan. Kita dimotivasi dengan tujuan yg lebih tinggi dan bermakna kekal, yaitu memuliakan Tuhan.